Di daerah Jati Asih terdapat sebuah kampung kecil yang terletak di belakang komplek perumahan Bumi Nasio Indah. Orang-orang disini mengatakan bahwa tempat ini sudah merupakan sebuah perkampungan kecil karena suasana, kondisi dan keadaannya yang persis seperti sebuah perkampungan. Disini terdapat sebuah keluarga penjaga kontrakan dan pengurus kebun yang kehidupannya sangat sederhana sekali. Kehidupannya jauh berbeda sekali dengan kehidupan orang kota yang sering kita lihat pada zaman sekarang ini. Keluarga ini hanya hidup dari penghasilannya atau gaji ia sebagai penjaga kontrakan dan sebagai pengurus kebun. Rumahnya pun berada disamping kontrakan yang ia jaga. Rumah yang saaaaaaaaaaaaaaangat dan amat sederhana sekali. Kesederhanaan itu bukan saja terlihat dari rumah mereka, tapi juga terlihat dari hal seperti yang akan diuraikan dibawah ini :

MASAK DENGAN KAYU BAKAR

Di zaman sekarang ini, jarang sekali kita lihat ada keluarga yang memasak dengan menggunakan kayu bakar dan bahkan hampir tidak terlihat lagi kalau masih ada orang yang masak dengan kayu bakar dikota seperti ini. Rata-rata semuanya memasak sudah menggunakan kompor gas dan mungkin juga masih ada beberapa yang menggunakan kompor minyak tanah, tapi kalau dengan kayu bakar sangat jarang sekali kita temukan. Karena masalah keefisienannya dilihat dari segi waktu dan kebersihan. Memasak dengan kompor gas akan mempersingkat waktu pekerjaan dan tidaklah kotor, tapi kalau dengan kayu bakar??? Wah ribetnya. Selain susah mencari kayu bakarnya, menghidupkan apinya juga susah dan banyak asapnya. Ditambah lagi dengan asapnya yang banyak. Tapi keluarga ini malah memilih memasak dengan kayu bakar karena katanya takut meledak kalau menggunakan kompor gas. Itu adalah salah satu jawaban yang diberikan oleh ibu halimah istri bapak jaitun seorang penjaga kontrakan dan pengurus kebun dalam wawancara saya dengan ibu halimah. Ibu halimah juga bilang kalau mencari kayu bakarnya juga tidak susah. Ibu 5 orang anak ini memang sudah tua, tapi dia ulet dalam mengurus keluarganya dalam kesederhanaan ini. Tidak ada kata mengeluh dan putus asa walaupun ia hanya memasak dengan kayu bakar. Kehidupan yang sangat sederhana yang dapat menggugah hati saya ketika melihat kondisi kehidupannya. Biasanya dapur dengan rumah itu pasti bergabung, tapi dapur ibu halimah berpisah dengan rumahnya. Dapurnya terletak kebun dan masih berlantaikan tanah. Bukan tembok yang sudah disemen. Selain itu, ibu halimah juga bilang kalau ia sering tidur digubuk yang ada dikebun dekat dapur. Katanya ia tidak biasa kalau tidur dikasur empuk. Kehidupan yang sangat keras telah merubah seseorang menjadi orang yang tegar dan tidak mengeluh. Itulah ibu halimah. Walaupun ia tidak merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang yang hidupnya berkecukupan, tapi ibu halimah masih tetap tersenyum dalam menjalani hari-harinya. Saya sangat terharu dan saya berharap ada orang yang bisa membagi sedikit kebahagiaannya dengan ibu halimah dan keluarganya.

Foto2nya dapat dilihat dibawah ini dan rekamannya dapat didengar dibawah ini.

_

_

BERKEBUN

Bapak Jaitun adalah suaminya ibu halimah. Pak jaitun bekerja sebagai seorang penjaga kontrakan dan pengurus kebun. Penghasilannya tidaklah seberapa. Dengan penghasilah yang kecil tapi pak jaitun masih bisa menghidupi keluarganya. Bapak mengurus kebun orang dan bila nanti sudah ada hasil kebunnya, hasil tersebut dijual dan nominalnya dibagi dengan pemilik kebun. Banyak sekali tanaman yang ada dikebun ini. Ada rambutan yang sekarang lagi berbuah, ada kacang panjang, ada kacang tanah, ada cabe rawit, ada pisang, ada pepaya, ada jagung, ada singkong dan ada juga bunga-bungaan. Setiap hari bapak harus kekebun untuk mengurusi tanamannya. Dikita-kota sudah sangat-sangat jarang sekali ada kebun-kebun seperti ini dan mungkin bahkan sudah tidak ada lagi. Bekerja dikebun tentunya pasti sangat cape. Tapi bapak tidak pernah mengeluh dan bahkan bapak sangat sering bercanda. Malahan ditengah kehidupan yang seperti ini, keluarga bapak jaitun sering berkumpul bersama-sama. Selain berkumpul dengan keluarga, bapak jaitu dan keluarganya juga sering berkumpul dengan orang-orang kontrakan dan masyarakat lingkungan sekitarnya yang main kekontrakan atau main kekebun. Hidup yang susah tidak menghapus senyum diwajah bapak jaitu. Slalu saja ada cara dan ada hal yang membuat bapak jaitun tertawa lebar. Bapak terus semangat ya menjalani hidup ini!!!!!!!!!

F0to-foto tentang kebun dan kebersamaan ditempat bapak jaitun dapat dilihat dibawah ini.

_

_

_

_

_

_

__

_

MENJUAL BUNGA dan BETERNAK

Selain berkebun, bapak jaitun juga menanam tanaman hias berupa bunga-bunga dan lalu dijual. Tempat bunga-bunga ini ada didepan kontrakan yang dijaga oleh bapak jaitun dan ditengah-tengah bunga itu ada pondok tempat santai-santai seperti pondok yang ada dikebun. Bapak mengatakan pondok ini gubuk. Hahaha… nama yang terdengar agak kasar notsinya. Tapi apa boleh buat, itulah hal yang dikatakan oleh bapak jaitun. Saya tidak mendapatkan banyak informasi tentang kebun ini karena bapak jaitun tidak bercerita banyak tentang tanaman hias ini.

Selain berkebun dan menjual tanaman hias, bapak jaitun juga memelihara burung dan beternak ayam. Burung dirawat hanya untuk mainan saja. Tapi jika ada yang membelinya, bapak juga pasti akan menjualnya. Jadi burung itu dirawat memang untuk mainan saja tapi bapak juga pasti akan menjualnya jika ada yang mau membeli. Kan lumayan uangnya bisa buat tambah-tambah biaya hidup keluarga bapak jaitun. Selain itu bapak juga beternak ayam. Nah ayam-ayam ini memang dipelihara untuk dijual. Kalau harga per ekornya saya lupa tanya. Jadi saya tidak tau berapa harga perekornya…

Foto-foto tentang hewan peliharaan dan tanaman ditaman bapak jaitun dapat dilihat dibawah ini.

_

_

_

_

_

Itulah hasil penelitian saya kesebuah kampung kecil didaerah Jati Asih. Kehidupan yang sangat sederhana yang kadang membuat saya malu melihat kehidupan saya sendiri. Begitu susahnya orang tua mencari uang dan saya hanya bisa minta-minta saja kepada orang tua. Saya berharap cerita ini bisa membuka hati kita agar tidak malu mengakui diri kita apa adanya. Kesederhanaan bukanlah suatu hal yang harus membuat kita malu, tapi itu merupakan cambuk untuk kita agar kita menjadi orang yang berhasil dikemudian harinya. Masih banyak orang yang lebih menderita dari kita, tapi mereka tetap bisa tersenyum manis pada dunia. Tetap semangat ya. Maju terus pantang mundur.

Ok!!!!!!!!!

Hehehe….